Pages

Senin, 01 Oktober 2012

MENGENAL DAN MENGUASAI DIRI SENDIRI

Keyakinan paling puncak dalam ilmu pengetahuan hanya dapat diperoleh dalam lingkup rasa “AKUNYA” manusia itu sendiri. Manusia mengenal dan mengetahui segala yang ada di dunia ini melalui panca inderanya dan segala alat yang dimilikinya, tetapi satu-satunya yang memperalat dan memanfaatkannya adalah rasa “AKUNYA” manusia itu sendiri. Karena itu manusia diajak kembali kepada titik asal, yaitu bahwa ilmu rasa “AKUNYA” manusia itu merupakan satu-satunya lingkup studi yang terutama dan utama bagi setiap pemikir untuk mempelajarinya. Coba pikirkan dengan hening dan renungkan tanya jawab sebagaimana dibawah ini : Tanya : Dari semua yang ada dalam alam semesta ini, apakah atau siapakah yang paling tua? Jawab : Tuhan Allah, karena Allah lah selalu ada sebelum dan sesudah alam semesta ini diciptakan. Tanya : Apa yang paling indah di alam semesta ini? Jawab : Alam semesta ini sendiri, karena Tuhan Allah lah yang penciptakannya. Tanya : Apa yang paling besar dan paling agung dalam alam semesta ini? Jawab : Ruang semesta, karena dapat memuat segala isi dalam semesta ini Tanya : Apa yang paling tetap dan konstan dalam alam semesta ini? Jawab : Harapan, karena harapanlah satu-satunya yang akan dimiliki manusia sesudah manusia kehilangan segala sesuatunya Tanya : Apa yang paling baik dalam alam semesta ini? Jawab : Kebajikan, karena tanpa adanya kebajikan, tidak satupun akan menjadi baik Tanya : Apa yang paling cepat lajunya dalam alam semesta ini? Jawab : Alam pikiran dan angan-angan, karena dalam waktu sedetik alam pikiran dan angan-angan bisa mencapai segala ujung semesta ini Tanya : Apa yang paling kuat dalam alam semesta ini? Jawab : Keterpaksaan, karena manusia harus mengerahkan segala kemampuan untuk dapat mengatasi dan memecahkannya Tanya : Apakah yang paling mudah dalam alam semesta ini? Jawab : Memberi nasehat Tanya : Apa yang paling sulit dan rumit dalam alam semesta ini? Jawab : MENGENAL DAN MENGUASAI DIRI SENDIRI Hal terakhir itulah yang harus tetap dihadapi manusia sejak semesta ini diciptakan sampai pada saat ini dan semasa kelak kemudian.

Pencarian air suci Prawitasari

Dewa Ruci yang merupakan cerita asli wayang Jawa memberikan gambaran yang jelas mengenai hubungan harmonis antara Kawula dan Gusti, yang diperagakan oleh Bima atau Aria Werkudara dan Dewa Ruci. Pencarian air suci Prawitasari Guru Durna memberitahukan Bima untuk menemukan air suci Prawitasari. Prawita dari asal kata Pawita artinya bersih, suci; sari artinya inti. Jadi Prawitasari pengertiannya adalah inti atau sari dari pada ilmu suci. Hutan Tikbrasara dan Gunung Reksamuka Air suci itu dikatakan berada dihutan Tikbrasara, dilereng Gunung Reksamuka. Tikbra artinya rasa prihatin; sara berarti tajamnya pisau, ini melambangkan pelajaran untuk mencapai lendeping cipta (tajamnya cipta). Reksa berarti mamalihara atau mengurusi; muka adalah wajah, jadi yang dimaksud dengan Reksamuka dapat diartikan: mencapai sari ilmu sejati melalui samadi. 1. Sebelum melakukan samadi orang harus membersihkan atau menyucikan badan dan jiwanya dengan air. 2. Pada waktu samadi dia harus memusatkan ciptanya dengan fokus pandangan kepada pucuk hidung. Terminologi mistis yang dipakai adalah mendaki gunung Tursina, Tur berarti gunung, sina berarti tempat artinya tempat yang tinggi. Pandangan atau paningal sangat penting pada saat samadi. Seseorang yang mendapatkan restu dzat yang suci, dia bisa melihat kenyataan antara lain melalui cahaya atau sinar yang datang kepadanya waktu samadi. Dalam cerita wayang digambarkan bahwasanya Resi Manukmanasa dan Bengawan Sakutrem bisa pergi ketempat suci melalui cahaya suci. Raksasa Rukmuka dan Rukmakala Di hutan, Bima diserang oleh dua raksasa yaitu Rukmuka dan Rukmala. Dalam pertempuran yang hebat Bima berhasil membunuh keduanya, ini berarti Bima berhasil menyingkirkan halangan untuk mencapai tujuan supaya samadinya berhasil. Rukmuka : Ruk berarti rusak, ini melambangkan hambatan yang berasal dari kemewahan makanan yang enak (kemukten). Rukmakala : Rukma berarti emas, kala adalha bahaya, menggambarkan halangan yang datang dari kemewahan kekayaan material antara lain: pakaian, perhiasan seperti emas permata dan lain-lain (kamulyan) Bima tidak akan mungkin melaksanakan samadinya dengan sempurna yang ditujukan kepada kesucian apabila pikirannya masih dipenuhi oleh kamukten dan kamulyan dalam kehidupan, karena kamukten dan kamulyan akan menutupi ciptanya yang jernih, terbunuhnya dua raksasa tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa Bima bisa menghapus halangan-halangan tersebut. Samudra dan Ular Bima akhirnya tahu bahwa air suci itu tidak ada di hutan , tetapi sebenarnya berada didasar samudra. Tanpa ragu-ragu sedikitpun dia menuju ke samudra. Ingatlah kepada perkataan Samudra Pangaksama yang berarti orang yang baik semestinya memiliki hati seperti luasnya samudra, yang dengan mudah akan memaafkan kesalahan orang lain. Ular adalah simbol dari kejahatan. Bima membunuh ular tersebut dalam satu pertarungan yang seru. Disini menggambarkan bahwa dalam pencarian untuk mendapatkan kenyataan sejati, tidaklah cukup bagi Bima hanya mengesampingkan kamukten dan kamulyan, dia harus juga menghilangkan kejahatan didalam hatinya. Untuk itu dia harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: Rila : dia tidak susah apabila kekayaannya berkurang dan tidak iri kepada orang lain. Legawa : harus selalu bersikap baik dan benar. Nrima : bersyukur menerima jalan hidup dengan sadar. Anoraga : rendah hati, dan apabila ada orang yang berbuat jahat kepadanya, dia tidak akan membalas, tetap sabar. Eling : tahu mana yang benar dan salah dan selalu akan berpihak kepada kebaikan dan kebenaran. Santosa : selalu berada dijalan yang benar, tidak pernah berhenti untuk berbuat yang benar antara lain : melakukan samadi. Selalu waspada untuk menghindari perbuatan jahat. Gembira : bukan berarti senang karena bisa melaksanakan kehendak atau napsunya, tetapi merasa tentram melupakan kekecewaan dari pada kesalahan-kesalahan dari kerugian yang terjadi pada masa lalu. Rahayu : kehendak untuk selalu berbuat baik demi kepentingan semua pihak. Wilujengan : menjaga kesehatan, kalau sakit diobati. Marsudi kawruh : selalu mencari dan mempelajari ilmu yang benar. Samadi . Ngurang-ngurangi: dengan antara lain makan pada waktu sudah lapar, makan tidak perlu banyak dan tidak harus memilih makanan yang enak-enak: minum secukupnya pada waktu sudah haus dan tidak perlu harus memilih minuman yang lezat; tidur pada waktu sudah mengantuk dan tidak perlu harus tidur dikasur yang tebal dan nyaman; tidak boleh terlalu sering bercinta dan itu pun hanya boleh dilakukan dengan pasangannya yang sah. Pertemuan dengan Dewa Suksma Ruci Sesudah Bima mebunuh ular dengan menggunakan kuku Pancanaka, Bima bertemu dengan Dewa kecil yaitu Dewa Suksma Ruci yang rupanya persis seperti dia. Bima memasuki raga Dewa Suksma Ruci melalui telinganya yang sebelah kiri. Di dalam, Bima bisa melihat dengan jelas seluruh jagad dan juga melihat dewa kecil tersebut. Pelajaran spiritual dari pertemuan ini adalah : Bima bermeditasi dengan benar, menutup kedua matanya, mengatur pernapasannya, memusatkan perhatiannya dengan cipta hening dan rasa hening. Kedatangan dari dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima yaitu bersatunya kawula dan Gusti. Di dalam paningal (pandangan didalam) Bima bisa melihat segalanya segalanya terbuka untuknya (Tinarbuka) jelas dan tidak ada rahasia lagi. Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya yaitu bahwa dalam dirinya yang terdalam, dia adalah satu dengan yang suci, tak terpisahkan. Dia telah mencapai kasunyatan sejati. Pengalaman ini dalam istilah spiritual disebut “mati dalam hidup” dan juga disebut “hidup dalam mati”. Bima tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Mula-mula di tidak mau pergi tetapi kemudian dia sadar bahwa dia harus tetap melaksanakan pekerjaan dan kewajibannya, ketemu keluarganya dan lain-lain. Arti simbolis pakaian dan perhiasan Bima Bima mengenakan pakaian dan perhiasan yang dipakai oleh orang yang telah mencapai kasunyatan-kenyataan sejati. Gelang Candrakirana dikenakan pada lengan kiri dan kanannya. Candra artinya bulan, kirana artinya sinar. Bima yang sudah tinarbuka, sudah menguasai sinar suci yang terang yang terdapat di dalam paningal. Batik poleng : kain batik yang mempunyai 4 warna yaitu; merah, hitam, kuning dan putih. Yang merupakan simbol nafsu, amarah, alumah, supiah dan mutmainah. Disini menggambarkan bahwa Bima sudah mampu untuk mengendalikan nafsunya. Tusuk konde besar dari kayu asem Kata asem menunjukkan sengsem artinya tertarik, Bima hanya tertarik kepada laku untuk kesempurnaan hidup, dia tidak tertarik kepada kekeyaan duniawi. Tanda emas di antara mata. Artiya Bima melaksanakan samadinya secara teratur dan mantap. Kuku Pancanaka Bima mengepalkan tinjunya dari kedua tangannya. Melambangkan : 1. Dia telah memegang dengan kuat ilmu sejati. 2. Persatuan orang-orang yang bermoral baik adalah lebih kuat, dari persatuan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, meskipun jumlah orang yang bermoral baik itu kalah banyak. Contohnya lima pandawa bisa mengalahkan seratus korawa. Kuku pancanaka menunjukkan magis dan wibawa seseorang yang telah mencapai ilmu sejati.